Trah Mojopahit Wahyu Ciptaningsih Wabup Cirebon Nyekar Agung di Petilasan Raja Singhapura

Trah Mojopahit Wahyu Ciptaningsih Wabup Cirebon Nyekar Agung di Petilasan Raja Singhapura

Cirebon Kabupaten,G.- Wakil Bupati Girebon Hj Wahyu Tjiptaningsih, SE, M.Si hadiri acara nyekar agung di Situs Makam Radja Keratuwan Singhapura Paduka Prabu Ki Ageng Tapa dengan Permaisuri Gusti Ratu Nyai Mas Ratna Kerandjang . Acara diselenggarakan di Desa Sirnabaya Kecamatam Gunung Jati Kabupaten Cirebon, Minggu (15/8/2022). Kehadiran Hj. Wahyu Tjiptaningsih yang akrab disapa Mimi Ayu

Cirebon Kabupaten,G.-
Wakil Bupati Girebon Hj
Wahyu Tjiptaningsih, SE, M.Si hadiri acara nyekar agung di Situs Makam Radja Keratuwan Singhapura Paduka Prabu Ki Ageng Tapa dengan Permaisuri Gusti Ratu Nyai Mas Ratna Kerandjang . Acara diselenggarakan di Desa Sirnabaya Kecamatam Gunung Jati Kabupaten Cirebon, Minggu (15/8/2022).

Kehadiran Hj. Wahyu Tjiptaningsih yang akrab disapa Mimi Ayu bak mengingatkan kembali manakala Istri Sunan Gunungjati Nyimas Roro Tepasan Trah Dalem Keraton Mojopahit hadir di Caruban Larang.

Bertemunya Sunan Gunungjati dengan Nyi mas Roro Tepasan merupakan simbol menyatunya kembali dinasti San Jaya pendiri awal Mataram dan dinasti Wi Jaya pendiri awal Mojopahit. Keduanya berasal dari Galuh dan Pewaris Galuh yaitu Kerajaan Cirebon saat ini.
Cirebon akulturasi budaya Kulon dan Wetan tanah Jawa.

Wahyu Ciptaningsih Wabup Cirebon yang berasal dari wewengkon Mojopahit kehadirannya mengikuti prosesi Nyekar ataupun Ziarah mengikuti adat istiadat pemangku adat keratuan Singhapura disambut baik oleh kerabat Keratuwan Singhapura di Pendopo Keratuwan Desa Mertasinga serta disambut pula oleh para Kuwu Sekecamatan Gunung Jati, Pemuda Pancasila, Grip, PWCR, dan masyarakat setempat yang dipimpin oleh Sultan Sepuhan Aluda II (dua).

Usai penyambutan oleh Sultan Sepuh Aloeda II (dua), wanita yang dijuluki Miminya Wong Cirebon tersebut di dampingi oleh Sultan Aloeda II (dua) dan kerabat Keratuwan Singhapura berjalan kaki sejauh satu kilo meter menuju pecanden atau petilasan Raja Singhapura yang berlokasi di Desa Sirnabaya Kecamatan Gunungjati.

Dalam penyampaiannya sebagai publik pigur kepada wartawan Mimi Ayu mengatakan bahwa Desa Mertasinga dan Sirnabaya adalah merupakan Desa yang sudah ditetapkan sebagai Destinasi Wisata Religi.

” Karena sudah ditetapkan sebagai Destinasi Wisata, maka insya Allah apa yang menjadi kebutuhan dari Situs ini untuk perbaikan akan mendapatkan alokasi anggaran,” tutur Wakil Bupati Cirebon Wahyu Ciptaningsih.

Masih kata Ayu, “Anggaran tersebut bisa kita ambil dari APBD, bisa juga dari Pemerintah Pusat, apa lagi Desa Mertasinga dan Desa Sirnabaya adalah memiliki sejarah titik nolnya berdirinya kerajaan yang ada di Cirebon.

” Nantinya ketika banyak wisatawan akan mendatangkan devisa yang bisa untuk menambah pendapatan Daerah yang kemudian bisa kembali untuk membangun Kabupaten Cirebon, ” pungkasnya

Ditempat yang sama Drs. R. Udin Kaenudin, M.Si selaku Camat Gunungjati mengatakan, Keratuwan Singhapura dengan Radjanya yang bernama Paduka Prabu Ki Ageng Tapa adalah sosok yang memulai mendirikan Kerajaan (keratuwan) dari titik nol berdirinya Kasultanan yang ada di Cirebon, Keratuwan Singapura tersebut gabungan dari Kerajaan Singakarta, Japura.

” Tujuan diadakan nyekar agung ini adalah untuk melestarikan, sekaligus mengingatkan kita semua bahwa, disinilah titik nol berdirinya Kasultanan Cirebon, agar sejarah ini jangan terlupakan, ” ungkapnya.

Hal tersebut dibenarkan oleh Sultan Sepuh Aloeda II (dua) yang mengatakan, Desa Mertasinga dan Sirnabaya memiliki sejarah penting, mengingat titik nol berdirinya Keraton di Cirebon diawali dengan adanya Keratuwan Singhapura.

” Adanya Keraton contohnya Kasepuhan, tentu ada awalnya dulu, awalnya siapa, disinilah titik nolnya Kasultanan Kasepuhan dan Cirebon berawal dari sini, dan acara ini perlu di lestarikan setiap tahunnya.

” Pesan saya kepada para Ahlulbait dzurriyah Pangeran Cakrabuana dan Kasultanan Gunung Jati agar kita tetap menyelenggarakan acara ini setiap tahunnya, karena walau bagaimanapun juga disini sejarah awal berdirinya Kasultanan.

Menurutnya, keberadaan dirinya di dalam acara nyekar agung adalah lebih utamanya ingin menegakkan kembali Marwah Keraton Kasepuhan dan yang keduanya menghimpun kembali saudar-saudara semua dari keturunan Mbah Kuwu Cirebon, Pangeran Cakrabuana ataupun Sultan Sunan Gunung Jati agar dapat bersatu kembali guna membangun Cirebon, agar Cirebon bisa berkiprah, bukan saja di Cirebon ataupun Nasional akan tetapi di taraf Internasional.

” Mari kita bersatu kembali untuk membangun Cirebon agar Cirebon bisa berkiprah, bukan saja di Cirebon saja, tapi di taraf Internasional, ” ajak Sultan Sepuh Aloeda II (dua).

” Ini kalau saya cermati yang mendalam, ini kita masih musyawarah, karena dalam beberapa hal misalnya, pengakuan Pahlawab Nasional, saya sendiri terlibat langsung di dalam pengakuan Pahlawan Nasional Muktar Kusuma Atmaja ya, saya berharap kedepan akan terlibat terhadap pengakuan Keratuwan Singhapura ini secara Nasional, “pungkasnya.

Sementara itu terkait Ki Ageng Tapa atau Jumajan Jati sebagai Raja dari Keraton Singhapura menurut sumber merupakan Kakek dari P.Walangsungsang, Rara Santang dan Prabu Kian Santang.
Ki Ageng Tapa merupakan putra bungsu dari Prabu Dewa Niskala bin Prabu Niskala Wastu Kencana Prabu Siliwangi ke 1 bin Prabu Lingga Buana yang gugur di Bubat yang bergelar Prabu Wangi.
( Hendy )

Posts Carousel

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos