CIREBON, G.- Kecewa dengan sistem di tempat lama, Andika Samudra memilih mundur dan mendirikan lembaga sendiri. Kini, melalui LPK Kansai Nihonggo di Jl. P. Antasari, Plumbon, Kabupaten Cirebon, ia ingin jadi jembatan bagi anak muda yang ingin bekerja ke Jepang. Andika mundur dari LPK sebelumnya sekitar lima bulan lalu. Menurutnya, jabatan Direktur yang ia sandang

CIREBON, G.-
Kecewa dengan sistem di tempat lama, Andika Samudra memilih mundur dan mendirikan lembaga sendiri. Kini, melalui LPK Kansai Nihonggo di Jl. P. Antasari, Plumbon, Kabupaten Cirebon, ia ingin jadi jembatan bagi anak muda yang ingin bekerja ke Jepang.
Andika mundur dari LPK sebelumnya sekitar lima bulan lalu. Menurutnya, jabatan Direktur yang ia sandang saat itu hanya sebatas nama. “Segala urusan keuangan bukan saya yang pegang keputusan. Daripada terkena imbas dan diminta pertanggungjawaban klien yang bukan saya pakai, saya pilih mundur,” ujarnya.
Ia juga menegaskan, segala urusan keuangan di LPK lama silakan diarahkan ke manajemen lama. “Siapapun klien yang berkaitan dengan persoalan keuangan, hubungi manajemen LPK sebelumnya. Saya sudah mundur,” tegas Andika.
Saat ini Andika menakhodai LPK Kansai Nihonggo yang sudah berjalan dua tahun. Lembaga ini fokus menyiapkan calon Pekerja Migran Indonesia (PMI) untuk pasar kerja di Negeri Sakura.
Targetnya jelas: mencetak lulusan yang siap kerja, paham budaya, dan berangkat dengan biaya terjangkau.
Materi di Kansai Nihonggo tidak hanya bahasa Jepang. Siswa juga ditempa etika, tata krama, budaya, dan kedisiplinan ala Jepang. Tujuannya agar mereka tidak kaget saat sudah di sana.

Jurusan yang dibuka mengikuti kebutuhan pasar, mulai dari Pertanian, Peternakan, Industri, Manufaktur, hingga Konstruksi.
Untuk mendukung proses belajar, LPK ini memiliki 2 pengajar dan menyediakan asrama bagi siswa yang rumahnya jauh. Bagi yang berdomisili dekat, sistemnya bisa pulang-pergi.
Soal biaya, Kansai Nihonggo sedang promo. Biaya kursus sampai dapat job dipatok Rp5 juta.
“Setelah lulus interview dengan perusahaan di Jepang, baru ada biaya keberangkatan. Untuk paspor, visa, tiket pesawat, asuransi dan lain-lain kisarannya Rp40 juta sampai Rp50 juta,” jelas Andika.
Ia menargetkan waktu tempuh dari awal belajar di LPK sampai terbang bekerja ke Jepang hanya sekitar 3 bulan.
LPK Kansai Nihonggo beralamat di Jl. P. Antasari, Plumbon, Kabupaten Cirebon.
Dengan konsep biaya ramah dan proses cepat, Andika menyebut lembaganya siap menjadi pilihan utama bagi calon pekerja yang ingin merantau ke Jepang secara legal dan profesional.
(Hendy/Adv)








