Cirebon Kabupaten,G.- Berawal ketika Pangeran Raja Kanoman yang merupakan putera dari Sultan Anom Chaeruddin Muhammad Chaerudin diasingkan ke Ambon, terjadilah perjuangan rakyat Cirebon yang dipimpin Bagus Rangin pada tahun 1802, Bagus Rangin berasal dari demak, distrik Blandong, Rajagaluh (sekarang Rajagaluh menjadi kecamatan Rajagaluh, Majalengka) yang terletak di kaki gunung Ciremai, Bagus Rangin diperkirakan lahir sekitar tahun 1761.

Cirebon Kabupaten,G.-
Berawal ketika Pangeran Raja Kanoman yang merupakan putera dari Sultan Anom Chaeruddin Muhammad Chaerudin diasingkan ke Ambon, terjadilah perjuangan rakyat Cirebon yang dipimpin Bagus Rangin pada tahun 1802, Bagus Rangin berasal dari demak, distrik Blandong, Rajagaluh (sekarang Rajagaluh menjadi kecamatan Rajagaluh, Majalengka) yang terletak di kaki gunung Ciremai, Bagus Rangin diperkirakan lahir sekitar tahun 1761. Dia adalah putra dari Sentayem (Ki buyut Teyom), cucu dari Waridah dan keturunan dari Ki buyut Sambeng, salah satu dari cicit pembesar didaerah tersebut atau dalam bahasa Cirebon disebut Ki Gede. Bagus Rangin mempunyai tiga orang saudara, kakaknya bernama Buyut Bangin dan kedua adiknya bernama Buyut Salimar serta Bagus Serit (Bagus Serit juga menjadi pejuang melawan penjajah). Sifat Bagus Rangin digambarkan sebagai pemimpin yang gagah berani dan sanggup menyatakan perang dengan didukung oleh pengikutnya yang banyak.
Secara garis besar kondisi perekonomian di pedesaan Cirebon dijelaskan bahwa desa-desa hampir secara keseluruhan disewakan kepada orang-orang Cina oleh para bupati dan residen. Penyerahan tenaga kerja, penyerapan pajak dan hasil pertanian penduduk dibeli dengan harga sangat rendah oleh residen.
Di wilayah Palimanan banyak tanah yang disewakan oleh bupati kepada orang-orang Cina sementara masyarakat dihisap tenaganya dan dikenakan pajak yang tinggi, masyarakat Palimanan kemudian protes kepada Bupati meminta agar diberi keringanan pajak, namun jawaban yang diberikan oleh Bupati tidak memuaskan dan seolah-olah memihak kepada kepentingan orang-orang Cina bahkan kepala distrik seakan membiarkan keadaan ini. Masyarakat yang kecewa dengan tindakan bupati tersebut kemudian berniat untuk mengadakan gerakan perlawanan, mereka kemudian dihimpun oleh kelompok Bagus Rangin, menurut Bagus Rangin pihak yang paling bertanggung jawab terhadap permasalahan di Palimanan adalah Bupati dan asisten pejabat penghubung Belanda untuk wilayah kesultanan Cirebon, setelah persiapan selesai, para pejuang dengan dipimpin oleh Bagus Serit (adik Bagus Rangin) menyerang pendopo bupati dan membunuh bupati Tumenggung Madenda, kemudian para pejuang tersebut menyerang rumah kediaman asisten pejabat penghubung Belanda di Palimanan dan membunuhnya juga, dalam penelitiannya Tatang Manguni Amirin (peneliti sejarah Majalengka) menyebut bahwa Palimanan dalam peta Raffles 1817 masih disebut sebagai Benjawan dan pada Besluit van Commissarissen Generaal over Nederlandsch Indië No. 23 tahun 1819 tentang ketetapan pembagian karesidenan Cirebon menjadi beberapa regentschap (kabupaten) wilayah ini masuk dalam regentschap Bengawan Wetan.

Setelah membunuh bupati dan asisten pejabat penghubung Belanda di Palimanan, gerakan perlawanan rakyat yang dipimpin oleh Bagus Serit kemudian mulai mengepung dan menyerang rumah-rumah para bangsawan dan orang-orang Cina, setelah selesai dengan itu mereka semua kembali ke tempat asalnya masing-masing sementara sebagian yang lainnya bergabung dengan Bagus Rangin.
Banyaknya rakyat yang bergabung dengan kelompok Bagus Rangin membuat jumlah pasukannya bertambah antara 300 hingga 500 orang yang terlatih untuk berperang, selain Bagus Rangin sebagai pemimpin utamanya masih ada lagi pemimpin yang lainnya di antaranya Bagus Wariem dan Bagus Ujar dari wilayah Bayawak, Bagus Sakti dan Bagus Kondur dari wilayah Jatitujuh, Rontui dari wilayah Baruang Wetan, Bagus Sidung dari wilayah Sumber, Bagus Arisem dari wilayah Loyang, Bagus Suara dari wilayah Bantarjati, Bagus Sanda dari wilayah Pamayahan, Bagus Narim dari wilayah Lelea, Bagus Jamani dari wilayah Depok, Demang Penangan dari wilayah Kandanghaur, Demang Wargagupita dari wilayah Kuningan, Wargamanggala dan Harmanis dari wilayah Cikad, Wirasraya dari wilayah Mamis, Jurangprawira dari wilayah Linggajati, Jayasasmita dari wilayah Ciminding, Jangbaya dari wilayah Luragung, Anggasraya dari wilayah Timbang, Demang Jayaprawata dari wilayah Nagarawangi, Demang Angon Klangon dari wilayah Weru, Ingabei Martamanggala dari wilayah Pagebangan dan Demang Jayapratala dari wilayah Sukasari.
Perjuangan kelompok Bagus Rangin juga mendapatkan dukungan moril dan materil dari masyarakat desa-desa seperti Benuang Kulon, Malandang, Conggeng, Cililin, Depok, Selaawi dan Sukasari, bahkan kepala-kepala desa dari desa-desa seperti Batununggal, Tegal, Bentang, Gerudu, Cinaka, Tanggulun, Tambal, Ayer juga turut membantu perjuangan kelompok Bagus Rangin.
Laporan berkenaan dengan kekuatan kelompok Bagus Rangin juga didapat dari seorang perempuan bernama Nyi Jaya. Nyi Jaya yang dipercaya sebagai warga Bantarjati melaporkan kepada bupati Indramayu pada masa itu Raden Benggala bin Raden Sawerdi (Adipati Wiralodra) bahwa terdapat 1000 pemberontak bersenjata lengkap yang dipimpin oleh Bagus Rangin, selain itu Nyi Jaya juga melaporkan bahwa dia melihat ada Bagus Serit dan Bagus Kondar.
Pemberontakan yang dilakukan oleh bagus Rangin meluas hingga keluar wilayah kesultanan Cirebon, ditengah perjuangan besar cirebon yang telah dimulai pada sekitar tahun 1788 oleh Mirsa dan Pangeran Raja Kanoman (Putera Mahkota kesultanan Kanoman, putera pertama Sultan Anom Chaeruddin Muhammad Chaeruddin) dan dilanjutkan oleh pejuang lainnya termasuk di antaranya Bagus Rangin yang telah memulai perjuangannya pada sekitar tahun 1802, kondisi sosial di Cirebon semakin memprihatinkan, masih banyak orang yang jatuh sakit dan meninggal serta kelaparan akibat kosongnya bulir bulir padi, masa itu tahun 1805, dikarenakan perjuangan masyarakat cirebon melawan Belanda masih terus belangsung, maka pada tanggal 1 September 1806 Belanda membuat perjanjian dengan Sultan Sepuh Djoharuddin dan Sultan Anom Abu Soleh Imamuddin untuk mengembalikan Pangeran Raja Kanoman ke Cirebon guna meredakan perjuangan yang terjadi.
Dalam bukunya Geschiedenis van Nederlandsch Indie, V Frederik Willem Stapel mengatakan,
sampai dengan tahun 1806 jumlah kaum pemberontak yang bersenjata telah mencapai sekitar 40.000 orang. Pasukan yang langsung dipimpin oleh Bagus Rangin berjumlah antara 280-300 orang yang telah terlatih perang
Pasukan Belanda yang dipimpin oleh Pangeran Kusumahdinata IX dan Raden Surialaga II kemudian bergerak menuju wilayah Jatitujuh, Bagus Rangin yang mengetahui hal ini berusaha mengkonsolidasikan kekuatannya untuk memulai serangan terlebih dahulu, cara yang ditempuh oleh Bagus Rangin adalah dengan memasang umbul-umbul di lapangan Jawura guna menantang Belanda untuk berperang, lapangan Jawura merupakan sebuah lapangan yang memanjang dari timur ke barat dengan luas sekitar lima hektar yang berada di sebelah barat desa Kertajati.
Raffan Hasyim (sejarahwan Cirebon) dalam penelitiannya tentang Bagus Rangin yang mengutip sumber-sumber tradisional Cirebon menyatakan bahwa strategi perang yang digunakan oleh Bagus Rangin memiliki kesamaan dengan strategi yang digunakan oleh Sultan Sepuh V Muhammad Syafiuddin yaitu menggunakan strategi perang Buaya Mangap, strategi perang Buaya Mangap merupakan strategi perang yang menggabungkan antara kekuatan pasukan gerilya, kesenian tradisional seperti tayub dan kemampuan untuk menyamar dan bersembunyi.
Bagus Rangin memerintahkan anak buahnya untuk memasang lengkungan-lengkungan janur, umbul-umbul merah dan ranting-ranting dari pohon beringin, setiap lengkungan janur dijaga oleh tiga orang prajurit Bagus Rangin, ada sekitar dua puluh lengkungan janur yang dipasang sebelum menuju ke tenda kesenian, antara satu tenda dengan tenda lainnya dijaga sekitar lima puluh pasukan Bagus Rangin yang bersembunyi, di dalam tenda kesenian tersebut para penari dan wiyaga (penabuh gamelan) yang juga merupakan para prajurit Bagus Rangin sibuk memainkan keseniannya, ketika sudah menjelang tengah malam pasukan Bagus Rangin mulai mengadakan serangan, dalam kesempatan tersebut banyak pasukan dari Ngabehi Dalem Indramayu yang memihak Belanda tewas, bahkan patih Indramayu yang bernama Astrasuta juga ikut tewas.
Bagus Rangin pada persiapannya di lapangan Jawura menempatkan pasukannya di bagian utara dari lapangan tersebut, para komandan dari pasukan Bagus Rangin yang bersiap di lapangan Jawura diantara adalah Ki Buyut Merat, Ki Buyut Deisa, Ki Buyut Sena, Ki Buyut Jayakusuma, Ki Buyut Jago, Ki Buyut Teteg, Ki Buyut Huyung, Ki Buyut Bongkok, dan Ki Buyut Jasu. Pasukan Belanda yang melihat umbul-umbul yang dipasang oleh Bagus Rangin di lapangan Jawura kemudian segera membagi pasukannya, untuk menyerang pasukan Bagus Rangin.
Pada tanggal 22 Juli 1810, pasukan Bagus Rangin dapat mengalahkan pasukan Belanda yang dipimpin Pangeran Kusumahdinata IX dari Sumedang dekat wilayah Bantarjati, sementara pasukan Bagus Rangin lainnya dibawah komando Ki Buyut Merat dan Ki Buyut Deisa dapat mematahkan pertahanan dari pasukan Belanda yang dipimpin oleh Raden Surialaga II, dengan keterbatasan persenjataan dan personil, pasukan Bagus Rangin kemudian terpaksa mundur, hal ini dimanfaatkan oleh pasukan Belanda untuk melawan balik dengan memblokade wilayah Jatitujuh, hal tersebut dilakukan untuk memutus hubungan antar kelompok pasukan Bagus Rangin sekaligus mempersempit ruang geraknya, Pangeran Kusumahdinata IX kemudian dapat membangun kekuatan pasukannya kembali dan memukul mundur pasukan Bagus Rangin hingga ke wilayah Panongan.
Pada tanggal 16 Februari 1812 terjadi lagi pertempuran di wilayah Bantarjati, pada tanggal 29 Februari 1812 pasukan Bagus Rangin dapat dipukul mundur dan akhirnya menderita kekalahan, 87 orang prajurit Bagus Rangin tewas, 227 orang pasukannya beserta dua orang pemimpinnya berhasil ditangkap, dua puluh tiga pucuk senapan, sembilan belas buah tombak, dua puluh tujuh pedang, tiga buah keris serta payung kebesaran yang dipercaya sebagai milik Bagus Rangin dan perlengkapan wayang berhasil dirampas oleh pasukan kolonial Britania, selain itu 776 orang keluarga besar Bagus Rangin serta keluarga sebagian pasukannya yang terdiri dari wanita dan anak-anak juga turut ditahan, namun dalam kesempatan tersebut Bagus Rangin dan Bagus Serit berhasil meloloskan diri.
Pencarian terhadap Bagus Rangin dan kelompoknya yang berhasil melarikan diri dilakukan pemerintah kolonial Britania dengan menyisir desa desa di sekitar Bantarjati seperti desa Biyawak dan desa Jatitujuh, fasilitas umum dan rumah-rumah warga yang ada di desa-desa tersebut dibakar, wanita dan anak-anak kemudian dibawa ke Indramayu untuk dijadikan tahanan namun Bagus Rangin dan kelompoknya tersebut belum dapat ditemukan, operasi militerpun terus dilakukan di desa-desa lainnya yang diduga sebagai tempat persembunyian Bagus Rangin dan kelompoknya, termasuk di desa Kedongdong. Adanya perang besar antara Hindia Belanda dan Britania atau yang dikenal dengan nama perang jawa Britania-Belanda tidak begitu menguntungkan gerakan perjuangan ini, terbukti dengan ditemuinya kegagalan setelah gerombolan yang dipimpin oleh Nairem yang merupakan seorang Demang dari Pagadangan (Supali Kasim seorang budayawan asal Indramayu berpendapat bahwa yang dimaksud wilayah Pagadangan kemungkinan adalah Pekandangan) dapat dikalahkan pada tanggal 25 Juni 1812 kemudian Bagus Rangin dan para pengikutnya dapat ditangkap oleh pemerintah Britania pada tanggal 27 Juni 1812 di desa Panongan (namun menurut keterangan Mayor William Thorn yang dituangkan dalam catatannya Memoir of the Conquest of Java yang diterbitkan pada 1815 beliau menjelaskan bahwa Bagus Rangin ditangkap bersama dengan keponakannya yang bernama Bagus Manuk dan pamannya yaitu Grissen atau Sidja Djuda ditangkap pada tanggal 28 Juni 1812) dan dihukum mati di desa Karang Sambung (dahulu merupakan tempat penyebrangan ramai yang menghubungkan sisi barat dan timur sungai Cimanuk) pada tanggal 12 Juli 1812.
(Hendy/ Samroni)







