Cirebon Kota, G.- Kegiatan Hunting Bersama yang diadakan di area GOR Bima, Jl. Brigjend.Dharsono, Kelurahan Karyamulya, Kecamatan Kesambi, Kota Cirebon. Tepatnya di halaman depan Gedung Kesenian Rarasantang berlangsung lancar, Minggu (02/06/2024). Giat tersebut mengambil tema Explore Your Camera, bertujuan untuk mengasah kreatifitas para penggiat seni fotografi dan juga sebagai wadah penghoby untuk menyalurkan kreatifitasnya. Untuk

Cirebon Kota, G.-
Kegiatan Hunting Bersama yang diadakan di area GOR Bima, Jl. Brigjend.Dharsono, Kelurahan Karyamulya, Kecamatan Kesambi, Kota Cirebon. Tepatnya di halaman depan Gedung Kesenian Rarasantang berlangsung lancar, Minggu (02/06/2024). Giat tersebut mengambil tema Explore Your Camera, bertujuan untuk mengasah kreatifitas para penggiat seni fotografi dan juga sebagai wadah penghoby untuk menyalurkan kreatifitasnya. Untuk pemula fotografi, belajar mengasah skill foto dengan mengexprlore kamera yang dimilikinya.
Di acara hunting Bersama ini selaku panitia adalah brigade_lensa senja, yaitu kelompok studi mahasiswa bidang photografi (UIN) SYEKH NURJATI CIREBON. Sebelum acara foto-foto Model dimulai diadakan sambutan-sambutan.
Sambutan yang pertama dari ketua Cirebon Photograpy Forum (CPF) Viko, dilanjutkan yang kedua sambutan Ketua Brigade Lensa Senja (BLS) Maulana Ishaq setelah sambutan selaku direktur utama Foxfire_Organizer. Usai sambutan-sambutan diilanjutkan dengan bincang-bincang atau sharing bersama mas Bermankefas.S.

Menurut mas Bermankefas.S sebelum berkarir di industry fotografi dulu nya dia seorang pekerja kantoran. Dari hobby foto yang menghasilkan uang lalu memutuskan focus di industri photografi. Bermankefa.s mengatakan bahwasannya cara dia tidak patut dicontoh, karena dibutuhkan keyakinan dan kecintaan terlebih dahulu dengan industry fotografi. “ Ketika memulai sebuah pekerjaaan apapun itu jika tidak mencintai, dia yakin individu tersebut tidak akan bisa jadi apa-apa, “ tuturnya.
Ia menekankan Kembali kepada peserta yang kameranya masih entri level jangan pernah takut dan insecure. “ Teruslah belajar!, sekarang media media untuk belajar fotografi banyak,” serunya.
Bermankefa.S, awal gabung di kumunitas CPF tidak punya kamera. Akan tetapi karena semangat bekerja dan kecintaannya kepada fotografi akhirnya bisa kebeli kamera. Dia bilang awal bisa memotret itu berjalan kaki keliling dari jalan Brigjen Dharsono sampai jalan Karanggetas dan ke Pasar Kanoman.

“ Apapun yang ada dijalan dan di lihat oleh mata, kalian foto nanti fell atau rasa itu akan tumbuh dengan sendiri nya. Nanti cara mata kalian memandang akan berbeda dengan fotografer yang lain,” tutur Bermankefa.
Sementara itu, Mc eyc pun bertanya bagaimana cara menguasai Teknik fotografi, dan Berman menjawab bahwa pemahaman tentang segitiga exposure perlu di pahami dengan baik terlebih dahulu. Karena itu sumber pokok utama. Dari situ nanti banyak tahapan-tahapannya seperti. belajar komposisi pengambilan gambar, belajar bagaimana mengatur pose, dan belajar mengatur ekspresi mood pelanggan yang mengunakan jasa kita, agar tetep nyaman ketika kita arahkan posenya. Di Fotografi model itu sebenernya ada aturan-aturannya tapi untuk sekarang kita kesampingkan dulu aturannya, untuk belajar dan bebas berkarya sesuai apa yang kalian suka.
Usai pemaparan oleh narasumber, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Ada yang bertanya foto yang bagus dan foto yang kurang bagus itu seperti apa? “ Foto yang bagus itu segitiga exposure nya harus benar dan dari segi enggele foto, komposisinya pencahayaannya. Sedangkan foto yang tidak bagus itu kurangnya focus atau blur terlalu terang (overexposure), serta terlalu gelap under exposure yang menyebabkan foto tidak bagus, “ tutur mas Berman.

Mas Berman juga menyampaikan dari hasil pengamatanya, bahwa kebanyakan anak-anak jaman sekarang bilang, yang penting saya motret dulu. Misalkan foto terlalu gelap atau terlalu terang nanti diedit. “ Saya punya pedoman setiap memotret hasil jepretannya itu harus layak dulu, bahkan saya sudah melakukan minim edit. Saya motret foto Beauty, kendala dari motret beuty dan headshot itu kendalanya dimodelnya. Ada yang berjerawat dan perlu dilakukan proses editing wajah. Saya menekan kan bahwa memotret itu hasil kita harus sudah bagus,” tuturnya.
Mas Berman mengaku bahwa dirinya paliing melakukan preoses editing 20%. “ Sudah enggak kaya dulu lagi foto terlalu gelap dimaksimalin, gimana caranya supaya jadi bagus. Kalau dengan cara seperti itu pasti capek dan lama pengerjaannya. Kalau sudah terjun di dunia industry, 1000 foto mau edit satu satu tentu tidak mungkin, minimal harus minim edit,” pungkas mas berman.
(Rahman CH)









