Dari Sampah Jadi Berkah, Aksi PKK Brebes

Dari Sampah Jadi Berkah, Aksi PKK Brebes

Brebes, G.- Kepedulian terhadap lingkungan dapat dimulai dari rumah melalui kebiasaan sederhana memilah dan mengolah sampah. Di sisi lain, bahan alami yang tersedia di sekitar juga dapat dimanfaatkan menjadi produk sehat sekaligus bernilai ekonomi. Semangat itulah yang didorong TP PKK Kabupaten Brebes melalui Edukasi Kreatif Pengelolaan Sampah dan Pembuatan Minuman Herbal Alami sekaligus Launching Bank

Brebes, G.-

Kepedulian terhadap lingkungan dapat dimulai dari rumah melalui kebiasaan sederhana memilah dan mengolah sampah. Di sisi lain, bahan alami yang tersedia di sekitar juga dapat dimanfaatkan menjadi produk sehat sekaligus bernilai ekonomi. Semangat itulah yang didorong TP PKK Kabupaten Brebes melalui Edukasi Kreatif Pengelolaan Sampah dan Pembuatan Minuman Herbal Alami sekaligus Launching Bank Sampah Desa Lengkong, Kecamatan Wanasari, di Pendopo Kabupaten Brebes, Rabu (7/10/2026).

Kegiatan yang dipandu UPTD Pengelolaan Sampah Bumiayu tersebut memberikan keterampilan kepada kader PKK untuk mengolah sampah serta memanfaatkan bahan alami. Edukasi tidak hanya menekankan pentingnya pemilahan sampah dari rumah, tetapi juga mengenalkan pengolahan limbah menjadi produk bernilai guna, termasuk eco enzyme yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan sabun dan cairan pembersih.

Ketua TP PKK Kabupaten Brebes yang diwakili Bidang III, Iska Yuni Dwijayanti, mengatakan Brebes memiliki kekayaan bahan alami, mulai dari bawang merah hingga berbagai rempah yang dapat dikembangkan menjadi produk olahan rumah tangga. Menurutnya, keterampilan tersebut dapat membantu keluarga memperoleh pilihan minuman yang lebih sehat sekaligus membuka peluang ekonomi.

“Kalau bisa membuat sendiri, dengan bahan yang kita tahu asalnya, dengan takaran gula yang kita kendalikan sendiri, kenapa tidak?” ujarnya.

Iska menuturkan, jahe, kunyit, dan buah lokal dapat diracik menjadi minuman sehat untuk keluarga. Jika keterampilan tersebut berkembang menjadi produk yang diminati masyarakat, manfaatnya dapat meluas menjadi sumber tambahan penghasilan.

“Ibu yang bisa mengolah bahan alami di dapurnya sendiri, itu hebat. Kalau kemudian resepnya disukai tetangga, lalu diminta dibuatkan dan dijual, lebih hebat lagi. Ekonomi keluarga bisa terbantu, anak-anak bisa minum yang lebih sehat, dan uang belanja bisa lebih hemat,” katanya.

Selain bahan alami, Iska menekankan pentingnya mengubah cara pandang terhadap sampah rumah tangga. Sampah yang setiap hari dihasilkan keluarga, menurutnya, tidak seharusnya langsung berakhir di tempat pembuangan karena sebagian masih dapat dipilah, diolah, dan dimanfaatkan kembali.

“Sampah ini tidak bisa kita hindari. Setiap hari rumah kita menghasilkan sampah. Pertanyaannya, mau dibuang ke mana dan jadi apa,” tegasnya.

Karena itu, ia berharap Bank Sampah Desa Lengkong tidak berhenti pada kegiatan launching, tetapi menjadi gerakan yang terus berjalan dan memberi manfaat bagi keluarga. Iska juga memberikan dukungan berupa buku tabungan sampah bagi kader PKK agar kegiatan menabung sampah dapat dilakukan secara rutin.

“Saya berharap bank sampah ini benar-benar berjalan. Ada papan namanya, ada kegiatannya, ada manfaat ekonominya untuk keluarga,” ungkapnya.

Sementara itu, Kabid Pemberdayaan dan Partisipasi Masyarakat Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Brebes, Asri Noviarti, mengatakan pemanfaatan bahan alami dan pengelolaan sampah merupakan keterampilan yang dapat dikembangkan masyarakat dari lingkungan terdekat. Ia mendorong kader PKK untuk menjadi penggerak agar kebiasaan tersebut dapat diterapkan secara berkelanjutan di rumah masing-masing.

Asri menilai pengolahan bahan alami dapat memberikan manfaat ganda karena selain membantu keluarga memperoleh produk yang lebih terkontrol, hasil olahannya juga berpotensi dikembangkan menjadi produk usaha.

“Kalau kita bisa memanfaatkan bahan alami yang kita olah sendiri, tentu lebih hemat. Kalau kemudian produknya disukai dan bisa dijual, itu akan lebih baik lagi karena ekonomi keluarga bisa terbantu,” katanya.

Tenaga Fasilitator Lapangan (TFL) Sampah Kabupaten Brebes, Rudi Hartono, mengatakan keberadaan bank sampah menjadi bagian penting dalam membangun kebiasaan memilah sampah sejak dari rumah. Menurutnya, PKK memiliki peran strategis karena kader dapat menjadi penggerak edukasi sekaligus praktik pengelolaan sampah di tengah masyarakat.

“Kita edukasikan, kita sosialisasikan, dan kita terapkan juga terutama lewat kegiatan ibu-ibu PKK,” ujarnya.

Rudi menjelaskan, Bank Sampah Desa Lengkong nantinya dapat menerima berbagai sampah nonorganik, seperti botol plastik, kardus, besi, sandal, sepatu, pakaian hingga kaca. Sampah yang terkumpul akan dikoordinasikan dengan pengepul melalui pendampingan TFL.

“Kami akan menjembatani dan mengomunikasikan dengan para pengepul yang ada di sekitar desa. Kalau tidak ada, nantinya DLH akan menyediakan penampungan untuk limbah yang tidak bisa disalurkan ke pengepul,” jelasnya.

Selain ditabung, sampah juga dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai guna. Dalam pelatihan, warga dikenalkan dengan pemanfaatan minyak jelantah menjadi lilin, sementara sampah plastik dapat dikembangkan menjadi tas, dompet, bunga, dan berbagai kerajinan. Sampah organik juga dapat diolah menjadi eco enzyme yang selanjutnya bisa dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan sabun maupun cairan pembersih rumah tangga.

Rudi berharap launching Bank Sampah Desa Lengkong menjadi awal dari gerakan yang berkelanjutan. Ia memastikan TFL akan melakukan pemantauan dan pembinaan untuk mendorong pengembangan produk dari sampah.

“Jangan setelah launching terus adem ayem. Insyaallah kami akan monitoring dan kegiatan bank sampah ini berlanjut. Akan ada pengembangan-pengembangan selanjutnya agar limbah yang sudah tidak terpakai bisa dimanfaatkan menjadi produk yang memiliki nilai,” pungkasnya.

(Soca/ Dinkominfotik)

Posts Carousel

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos