Cirebon,G.- Sebuah pertunjukan kolosal bertajuk Sendragentala Gemelegar Manglayange Memolo Sang Cipta Rasa tengah dipersiapkan secara intens oleh para seniman, budayawan dan pelaku seni budaya di wilayah Cirebon. Pertunjukan ini digagas sebagai bentuk ekspresi spiritual, estetika, dan filosofi budaya yang berakar kuat pada warisan leluhur Cirebon, khususnya nilai-nilai luhur Sang Cipta Rasa—tokoh sentral dalam sejarah penyebaran

Cirebon,G.-
Sebuah pertunjukan kolosal bertajuk Sendragentala Gemelegar Manglayange Memolo Sang Cipta Rasa tengah dipersiapkan secara intens oleh para seniman, budayawan dan pelaku seni budaya di wilayah Cirebon.
Pertunjukan ini digagas sebagai bentuk ekspresi spiritual, estetika, dan filosofi budaya yang berakar kuat pada warisan leluhur Cirebon, khususnya nilai-nilai luhur Sang Cipta Rasa—tokoh sentral dalam sejarah penyebaran agama, budaya, dan peradaban Cirebon.
Sendragentala sendiri merupakan istilah yang menggabungkan “sendra” (seni drama) dan “gentala” (suara gaib/gaung semesta), melambangkan getaran energi budaya yang menghidupkan narasi tentang penciptaan, kejayaan, dan perenungan spiritual manusia di bawah naungan Sang Cipta Rasa.

“Gemelegar Manglayange” menggambarkan ledakan kesadaran spiritual dan kebudayaan yang melangit dari bumi Cirebon, sedangkan “Memolo Sang Cipta Rasa” adalah ungkapan syukur dan penghormatan terhadap ajaran Sang Waliyullah, pembentuk harmoni antara dunia dan akhirat.
Dalam proses persiapannya, puluhan seniman lintas generasi terlibat aktif. Mereka berasal dari berbagai sanggar dan komunitas budaya di Cirebon, termasuk dari lingkungan keraton, pejabat dan pelaku kreatif muda.
Pertunjukan ini akan memadukan unsur tari klasik Cirebon, musik gamelan, suluk, tembang macapat, hingga dramatikal teatrikal dengan pendekatan kontemporer.
Andrian Raharjo sutradara sekaligus penulis naskah Sendragentala Gemelegar Manglayange Memolo Sang Cipta Rasa menjelaskan bahwa Sendragentala ini bukan sekadar pertunjukan biasa.
“Ini adalah bentuk pertanggungjawaban budaya. Kami ingin menggugah kesadaran kolektif bahwa warisan Cirebon adalah sumber nilai yang tak lekang oleh zaman. Pertunjukan ini merupakan jembatan spiritual antara masa lalu dan masa kini,” ungkapnya yang ditemui disela-sela latihan di Gedung Bale Jaya Dewata Cirebon, Rabu(2/7/2025)
Tema besar pertunjukan ini mengangkat legenda Menjangan Wulung yang dipercaya merupakan sebuah petaka atau racun yang melanda Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang dalam prosesnya mengorbankan banyak nyawa, hingga akhirnya Sunan Gunung Jati memerintahkan untuk mengumandangkan Adzan Pitu untuk mengusir sang Menjangan Wulung. Legenda inilah yang menjadi babak paling sakral dalam syiar agama Islam yang dilakukan oleh para wali di Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang kemudian diangkat dalam sebuah pertunjukan akbar Sendragentala Gemelegar Manglayange Memolo Sang Cipta Rasa.
Simbolnya Sangkaning Dumadi (asal mula kejadian), Manglayang Karasa (perjalanan kesadaran), dan Memolo Cipta Rasa (penghayatan nilai dan keharmonisan). Setiap babak akan dikemas dalam bentuk pertunjukan teatrikal puitis yang mengajak penonton tidak hanya menyaksikan, tetapi juga merasakan dan merenungi makna di baliknya.
Sendragentala ( Seni Drama Gending Tari dan Lagu ) Kolosal Gemelegar Manglayange Memolo Sang Cipta Rasa adalah produksi Lembaga Kebudayaan Cirebon dimainkan oleh para seniman dan budayawan Cirebon yang tergabung di Lembaga Kesenian Cirebon (LKC) dan juga melibatkan pelaku seni dan budaya juga pejabat.
Pertunjukan Sendragentala ini rencananya akan menjadi puncak dalam rangkaian agenda budaya Festival Cirebon tahun 2025 dan akan dipentaskan pada tanggal 26 – 29 Juli 2025 bertempat di Alun-Alun Kejaksan Kota Cirebon dengan menghadirkan elemen artistik yang menyatu dengan alam dan sejarah lokal.
Dengan kolaborasi yang kuat antara seniman, pelaku seni tari, sanggar tari, pejabat daerah hingga komunitas seni budaya, Sendragentala Gemelegar Manglayange Memolo Sang Cipta Rasa diharapkan menjadi momentum penting dalam membangkitkan kembali spirit budaya Cirebon sebagai pusat peradaban yang menjunjung tinggi nilai-nilai kearifan lokal dan spiritualitas universal.
“Ketika sejarah hanya disimpan dalam lemari, ia akan dilupakan. Tapi jika sejarah dihidupkan melalui seni, maka ia akan abadi dalam hati dan kesadaran masyarakat,” pungkas Andrian Raharjo.
(Hendy/Samroni)













